DILEMA MUSLIM 04 NOVEMBER

Maklum saja kalangan Muslim saat ini dilema, bagaiman tidak? Kita di hadapkan dengan realita yang merancaukan pikiran. Demo dengan resiko akan dianggap bahwa muslim tidak punya sikap toleransi antar agama, atau Diam dengan resiko akan terkena Nash adh’aful Imaan. Dua perkara ini mirip tapi sangat kontras jika kita renungi dengan pemikiran Islam yang terarah. Keduanya sama-sama mempunyai mafsadah sekaligus maslahat yang abstrak. Tentu saja respon spontan ahok saat mengutarakan kampanyenya bukanlah sejenis tindakan yang buram, dia secara transparan menyuruh masyarakat mengkufuri ayat Al-Quran, lepas dari strategi politik pesaingnya, seruan ini sangat brutal dan ekstrem untuk kelas pencalonan Gubernur. Uniknya ialah respon khalayak luar dalam mengekspresikan sikap kekecewaan dan atau toleransi beragama, dan ini bahan renungan kita para ABG, sebagian memenuhi ruang beranda Facebook dengan opini masing-masing, ada pula yang mengotori jalan raya menggunakan banner yang tertulis kata-kata tak pantas. Akankah tindakan seperti ini dapat di golongkan sebagian dari Syi’ar Islam? Bahkan ini mencoreng nama baik Islam itu sendiri yang Rahmatan Lil Alamiin. Slogan “Bunuh Ahok” sah-sah saja, bagaimana jika ini berimbas pada kekacauan Bhinneka Tunggal Ika, dalam hal ini cara seperti itu sangatlah tidak efektif, bahkan bisa dikatakan hanya luapan keikut sertaan tanpa pengetahuan atau following others beacuse a moment, selepas momen tenang, mengeringlah pula iman yang sempat mengalir deras. Ini seni politikus bro! Bukan seni para pelajar.

Khalayak muslim luar sekarang ini tak ubahnya seperti domba yeng sedang diadu oleh oknum yang cerdik. Menarik untuk disimak bagaimana Forum Pembela Islam (FPI) dengan tertib serta dingin mengarahkan pengikut garis kerasnya untuk melaksanakan aksi protes besar-besaran yang langsung menuju target muslim bulan november ini. Sekaligus memberi tamparan kepada Ahok bahwa mereka mewakili Muslim Nusantara ialah singa yang siap membunuh siapa saja yang usil. Sejak zaman dahulu sy. Umar dibutuhkan Islam untuk menguatkan agama Islam, dan sy. Abu bakar yang lembut nan dingin untuk diambil sikap bijaknya.

Soal perdebatan di medsos, coba renungi dengan bijaksana apa yang sedang terjadi, setiap akun mempunyai argumentasi untuk mendukung “kepentingan beradu” sendiri, tanpa moderator mereka berdiskusi menggunakan amarah dengan bukti pada pertengahan komentar terdapat kata-kata tidak pantas tertulis. Kejadian seperti ini sungguh sangat disesalkan mengingat terbitnya dari saudara Muslim sendiri, karena sangat tidak ilmiyah dan hanya omong kosong belaka. Padahal Rasulullah telah bersabda, diriwayatkan dari Abi Hurayrah RA: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah berkata baik atau hendak berdiam”. Ternyata jika kita selami hadits tsb.  berkata baik tidak hanya ditujukan kepada komunitas tertentu dengan bukti tidak adanya objek khusus yang didawuhkan, maka yang seperti ini ialah subjektif invidu masing-masing untuk bertutur lembut atau tidak kepada khalayak khusus atau tertentu. Allah SWT. Telah berfirman:” اذهب إلى فرعون إنه طغى” (QS Thaahaa : 24.), coba renungi ayat ini, Allah mengkhitobi fir’aun seraya mencelanya, karena memang fir’aun telah melewati batas dalam kekufurannya. Maka memang seharusnya kafir direndahkan dan tidak diperbolehkan untuk mempunyai wewenang atas umat Muslim, sebagaimana Nabi Musa telah menyelamatkan Bani Israil dari kekangan praktek kerja rodhi fir’aun.  Mereka (Kafir. Red) ialah fitnah di alam ini, fitnah mereka telah melebihi batas sehingga tidak mempercayai Wahyu teragung baginda Nabi Muhammad SAW. yaitu AlQur’an. Coba ingat firman Allah saat Muslim diganggu Musyrik makkah: والفتنة أشد من القتل (QS. AlBaqarah : 191.) AlFitnah di ayat tersebut ialah Syirk sebagaimana di Tafsir Jalalain. Bahkan ternyata kemusyrikan ialah perkara yang sama sekali tidak dapat ditolerir, jika seperti itu maka dalih toleran bukanlah sebuah hal tepat, dengan bukti boleh membunuh kaum musyrik yang telah melampaui batas. Lalu bagaimana dengan mencela? Sasaran tembaknya juga harus pas, target harus di ukur sebelum mengeluarkan kalimat pencelaan, sangat kontras dengan yang terjadi di Sosial Media, sebagai anak muda update di sana sama saja dengan menyelam sambil minum air atau sebagai udan di balik batu. Renungi hadits Rasulullah diriwayatkan dari Abi Harayrah: “Termasuk dari bagusnya Islam seseorang ialah meninggalkan perkara yang tidak memberi manfaat”. Sah sah saja bagi setiap akun untuk melecehkan oknum musyrik, ternyata realitanya malah mencela sesama muslim sampai mencatat kata-kata tak layak. Rasulullah sudah mewanti-wanti sejak dahulu agar keadaan seperti dapat di hindari:”بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه”.  Dengan melihat kejelekan saudaranya yang muslim boleh bagi muslim lain merendahkannya yaitu sifat buruknya, selain itu haram darah, harta dan harga dirinya. Ternyata yang diperbolehkan untuk dibenci ialah keburukan, kembali lagi pada setiap perkara buruk tidak ada toleransi untuk dibela dan dipertahankan, gugurkan!.

Dewasa ini, khalayak luar kurang begitu kompeten dalam menjaga perilaku dan tutur kata seiring modernisasi zaman beserta mudahnya menuangkan opini menurut kehendak masing-masing. Tentu tidak dapat diharapkan persatuan yang kukuh dan absolut karena hal ini mustahil modern ini. Aksi anarkis dari para pendemo yang mungkin bisa jadi ialah pihak bayaran dari oknum tertentu, mulai dari membakar mobil, bentrok dengan aparat dsb. Kalau direnungi, perilaku seperti ini bukanlah yang diharapkan oleh syari’at mengingat pada Firman Allah SWT : فلا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين (QS. AlBaqarah) Coba cermati potongan ayat ini, kalimat sebelumnya ialah perintah untuk berjihad dengan kontekstual tanpa ampun. Tetapi sungguh AlQuran tidak mengajarkan sikap anarkisme. Kalau direnungi lebih dalam, Ini adalah keterangan mengenai sikap bertolerir antar agama, inilah cara yang mengesankan dari Islam yang sejak dahulu diakui kelembutan terhadap kaum tak bersalah, meski berjihad untuk menghidupkan / membela agama tetap saja ajaran Islam menggunakan toleransi yang memukau. Saat zaman sy. Abu Bakar, beliau berwasiat kepada pasukan yang akan dikirim ke medan peperangan. Diantaranya ialah: Tidak diperbolehkan membunuh anak kecil, perempuan, dan kakek tua, tidak boleh menebang pohon, dan membunuh hewan ternak. Ternyata meskipun keadaan segenting apapun bahkan ketika nyawa telah dipertaruhkan tetap tidak diperkenankan membunuh /dan menyalahi yang lemah, dalam arti lain tidak ekstrem serta brutal. Kelompok tersebut ialah golongan yang tidak ikut berperang, meskipun sebagian ada yang membantu merealisasikannya,  namun sama sekali tidak ada tindakan untuk melukai dan mencederai. Maka yang harus disalahkan ialah yang bersalah dan tidak dapat ditolerir. Wallahu A’lam bis Showab.

Menerjemah Awal dari Semuanya

 

Mendekati momen akhir tahun ini, saya teringat pengalaman saya beberapa tahun silam, tepatnya ketika telah berada di ambang pintu mutakharrijîn (kelas III Aliyah). Tatkala masa liburan akhir tahun semakin terasa dekat, saya justru dihadapkan
dengan tugas baru yang semakin padat. Tugas yang benar-benar baru, di luar zona nyaman hidup saya, yaitu menulis. Tugas ini dilakukan secara kolektif bersama tim Karya Ilmiah Kelas III Aliyah dengan mengangkat tema tentang fikih zakat. Bahan-bahan tulisan kebanyakan diambil dari kitab-kitab
kuning. Dalam menyusun karya ilmiah tersebut, saya dkk harus menerjemahkan bab-bab yang telah ditentukan dan merangkumnya menjadi sebuah tulisan jadi.
Karena tugas menerjemah dan merangkum ini sudah menjadi amanah, mau tidak mau saya harus menghadapinya dengan penuh tanggung jawab, meski dengan memaksakan diri. Alhamdulillah, setelah berupaya keras selama kira-kira dua bulan, akhirnya saya dkk bisa merampungkan tulisan itu. Buku pun naik cetak. Beberapa minggu sesudahnya, buku itu telah dibagikan sebagai kenang-kenangan Kelas III Aliyah.
Dari pengalaman ini saya mendapatkan pelajaran penting,
bahwa satu-satunya jalan keluar setiap kali berhadapan langsung dengan tantangan-tantangan baru adalah dengan menjalaninya. Mundur dari tantangan sering hanya akan menghambat perkembangan kita dan membatasi kita dari menemukan cara baru untuk membuat perbedaan, sekecil apapun, baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Kita diberi Tuhan sebuah
kesempatan untuk belajar dari tantangan-tantangan
baru tersebut sebagai jalan untuk menggali potensi terpendam kita. Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang akan menentukan sejarah hidup kita. Tepat sekali perkataan Henry Ward Beecher, “Kita selalu ditempa oleh ujian-ujian yang disiapkan Tuhan untuk membentuk diri kita agar memfokuskan pada hal-hal yang lebih tinggi.”
APAKAH MENERJEMAH ITU?
Menerjemah, itulah awal dari pengalaman menulis saya yang “resmi” sebagaimana yang telah saya ceritakan di atas. Bagi seseorang seperti saya yang termasuk kategori penulis “bau kencur”, menerjemah merupakan langkah awal yang “pas” dengan kondisi “pas-pasan” saya. Diakui atau tidak, para penulis pemula pasti sering mengalami kekurangan ide atau topik yang akan ditulis, bahkan mungkin
tidak punya ide sama sekali (blank). Kendala itulah yang acap kali menghalangi dan mengurangi semangat mereka untuk mewujudkan keinginan menulis. Hal ini saya rasakan sendiri. Dan menurut saya, menerjemah adalah jalan keluarnya.
Lantas apakah menerjemah itu? Menerjemah menurut bahasa adalah tafsir (Lihat: Loius Ma`luf, al-Munjid fil-Lughât wal-A`lâm, Beirut: Dâr al-Masyriq, 1986. hlm. 60). Sedangkan menurut istilah, menerjemah adalah memindahkan atau menyalin gagasan, ide, pikiran, pesan atau informasi lainnya dari satu bahasa ke dalam bahasa
lain. Hal ini harus dilakukan dengan cara sedekat dan sehalus mungkin, baik pengertian atau makna maupun gaya yang digunakan oleh bahasa aslinya, sebagaimana
penjelasan Eugne A. Nida dan Charles R. Taber yang dikutip oleh Paulinus Soge dalam buku “Menerjemahkan Teks Bahasa Inggris Ilmiah; Teori dan Praktek” (Yogyakarta: Universitas Atmajaya, 1996, hlm. 5).
Dari definisi atas, dapat disimpulkan bahwa menerjemahkan
secara umum adalah memindahkan gagasan, ide atau pikiran dalam suatu bahasa ke dalam bahasa lain. Bahasa pertama disebut bahasa sumber atau bahasa asli (source language/ al-lughah al-manqûl minha/ lughatul-
matn) dan bahasa kedua disebut bahasa target atau bahasa sasaran (target language/ al-lughah al-manqûl ilaiha/ lughatusy-syarh).
Secara lebih khusus, Muhammad Najib, dalam Ususut-
Tarjamah menegaskan bahwa tarjamah adalah tafsir. Ungkapan ini menyugestikan bahwa seorang penerjemah adalah seorang penafsir. Karena itu, penerjemah adalah orang yang bertanggung jawab untuk memahami suatu teks dalam bahasa asal (bahasa sumber) sekaligus menyuguhkannya
kepada pembaca yang menggunakan bahasa
sasaran. Jadi, tugas penerjemah adalah memahami sekaligus memahamkan. Penerjemah yang tidak mampu memahami teks bahasa asal, berarti telah gagal sebelum melangkah. Dia hanya akan menyuguhkan karya terjemahan
yang jelek, salah atau tidak menolong, kalau bukan malah membingungkan pembaca. Dengan demikian, bekal minimal seorang penerjemah adalah pengetahuan mengenai kedua bahasa (bahasa sumber dan bahasa target), yang berupa mufradât (kosakata) istilah-istilah, frasa, gramatika, budaya pemakai kedua bahasa, karena bahasa adalah ekspresi kebudayaan dan lain-lain.
Menerjemah adalah kegiatan ilmiah, bukan aktivitas yang remeh, karena menerjemah adalah pekerjaan yang melibatkan sekumpulan teori (ilmu) dan seni. Bahkan menerjemahkan adalah keterampilan yang melibatkan lebih banyak seni daripada upaya dan teori. Dinyatakan Paulinus Soge yang mengutip David P. Harris, penerjemahan
sangat bergantung pada rasa kebahasaan seseorang. Dan rasa bahasa ini berbeda pada satu individu dengan individu lainnya.
Namun demikian, kita tidak dibenarkan menafikan upaya, latihan dan teori-teori tentang menerjemahkan. Sebab betapapun kuat dan baiknya bakat dan rasa bahasa
seseorang, jika tidak dibarengi dengan latihan praktik yang terus-menerus dan berkelanjutan, dan teori (meski tanpa disadari), maka sulit kita bayangkan dia akan menjadi
penerjemah yang baik.
PENTINGNYA MENERJEMAHKAN
Jepang, yang bangga disebut translation empire (kaisar terjemah), Taiwan, Korea dan sejumlah negara Eropa untuk kasus modern, dan bangsa Arab-
Islam pada masa-masa awal dan pada abad-abad pertengahan, adalah contoh konkret bagaimana suatu bangsa mencoba menjadi maju dengan memperkaya
bahasa mereka melalui gerakan penerjemahan
bahasa-bahasa asing ke dalam bahasa mereka seindiri.
Itulah salah satu tujuan mengapa kita perlu menerjemahkan
karya-karya bangsa lain yang telah dianggap lebih maju daripada kita, baik dalam bidang ilmu, pengetahuan, kebudayaan, teknologi maupun seni. Atau dengan kata lain, penerjemahan juga dimaksudkan untuk mencendekiakan Bahasa Indonesia. Ciri inilah (kecendikiaan Bahasa Indonesia
dengan penerjemahan) yang dapat membuat Bahasa Indonesia mampu bertahan menghadapi persaingan dengan Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa
maju lainnya di kalangan orang yang ingin dianggap
sebagai terpelajar dan modern.
Tujuan lain mengapa kita perlu menerjemahkan adalah untuk saling menukar informasi atau penemuan
baru antara dua (atau lebih) bangsa yang menggunakan bahasa yang berbeda. Tanpa penerjemahan,
bangsa yang kurang (apalagi yang belum atau tidak) maju dan menguasai bahasa bangsa lain yang sudah maju akan ditinggal oleh informasi dan kemajuan dunia. Namun, hal ini tidak hanya berlaku bagi bangsa yang sedang atau belum maju saja, tetapi juga bagi mereka yang sudah maju. Karena itu, menerjemahkan bukan berarti keterbelakangan, justru ia adalah bentuk keterbukaan dan kehendak ikut meramaikan dunia dengan saling menukar informasi dan pengetahuan.
Tentu penerjemahan tak dapat dilakukan tanpa penguasaan yang memadai terhadap bahasa asing ( bahasa sumber yang hendak diterjemahkan). Kemampuan
dan penguasaan terhadap bahasa asing, Arab misalnya, harus ditingkatkan dan dikembangkan.
Karena setiap bangsa dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa lain dalam segala aspek
kehidupan, terutama untuk menyerap informasi dan ilmu pengetahuan, serta teknologi, untuk memperluas
cakrawala bangsa sejalan dengan kebutuhan pembangunan. Dengan kata lain, menerjemah dapat pula digunakan sebagai metode atau media untuk mempelajari bahasa asing.
Tak diragukan lagi bahwa informasi atau khazanah ilmu-ilmu keislaman dalam berbagai cabang dan disiplin dalam Bahasa Arab itu telah tertulis dalam jutaan judul buku dan kitab, dan semakin hari terjadi
pertambahan karya yang semakin cepat. Meski begitu, buku-buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia barangkali cuma nol koma sekian persennya saja. Karena itulah, penerjemahan buku-buku berbahasa Arab yang sering diidentikkan dengan buku-buku islami perlu dilakukan dan terus ditingkatkan.
Dewasa ini kita patut bersyukur, karena semakin bisa merasakan maraknya gerakan penerjemahan buku-buku atau teks-teks berbahasa asing, termasuk
Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Banyak penerbit yang memiliki perhatian cukup besar untuk menerbitkan karya-karya terjemahan dari Bahasa Arab, baik kitab klasik maupun modern. LkiS, Pustaka
Pelajar, Risalah Gusti, Pustaka Progessif, Pustaka Amani, Pustaka Firdaus, Mizan, Gema Insani Press, Serambi, Akbar Media, Al-Andalus dan lain-lain, adalah beberapa contohnya. Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) bahkan membuka
Jurusan Terjemah. Tujuannya jelas, yaitu untuk membekali calon-calon penerjemah dan melahirkan penerjemah yang handal dan profesional.
Dari sinilah, kita perlu mengapresiasi program menerjemah kitab yang ditetapkan di pondok kita, yakni program yang dibebankan kepada mahasantri Ma`had `Aly untuk menerjemahkan dan merangkum pengajian kitab Ihyâ` `Ulûmiddîn yang dibaca oleh Syaikhinâ. Sangat tepat sekali program itu ditetapkan,
bahkan seharusnya program menerjemah itu perlu diperluas skalanya, seperti diperuntukkan juga kepada siswa MGS dan DKH Putra di pondok ini. Ironis
(bahkan memalukan) sekali dua lembaga besar itu kalah cepat dari DKH Banat (karena lembaga ini telah mencetak beberapa buku terjemahan kitab karya mereka sendiri dan ini telah berjalan beberapa tahun yang lalu sampai sekarang). (al-Izz)

AL-HIMMAH MUHIMMAH AHAMMAH

Himmah ialah cita-cita, له هِمّة عالية yang berarti dia mempunyai cita-cita yang tinggi. Dalam keadaan apapun himmah dibutuhkan untuk menopang harapan yang ingin diraih, seseorang yang tidak mempunyai himmah berarti tak punya keinginan mencapai sesuatu yang dia dambakan, menyedihkan

Sudah menjadi rahasia umum kalau orang bercita-cita setinggi angkasa, hanya akan sampai pada gedung pencakar langit. Coba perhatikan kisah anak ketika ditanyai bapaknya tentang cita-citanya. Nak, cita-cita kamu seperti apa? Lalu sang anak menjawab, aku ingin menjadi seperti dirimu, pak. Yang bapaknya seorang tokoh di zamannya dan juga seorang Ulama, Faqih dan disegani keilmuannya. Mendengar jawaban dari anaknya sang bapak spontan menegurnya serta memberikan pengalamannya dahulu. Mengapa cita-citamu hanya ingin seperti bapak? Bapak ketika mencari ilmu nak, cita-cita bapak itu ingin mempunyai ilmu seluas Sy. Ali KAW. dan yang bapak dapatkan sungguh jauh dari beliau. Jadi saat kamu, nak punya keinginan menjadi bapak, lalu apa yang akan kau peroleh esok hari?. Coba perhatikan kisah seorang bapak ini, beliau mempunyai cita-cita tinggi dan bisa dikatakan tak mungkin, tapi dia selalu mengejar harapan yang tertanam di hati. Sayyidina Ali KAW. adalah babul ‘ilm sebagaimana yang didawuhkan Kanjeng Rasul SAW: أنا مدينة العلم و علي بابها. Rasulullah yang mengerti apa yang ada dahulu dan apa yang akan terjadi nanti telah memberikan laqb tersebut kepada beliau. Maka seperti apa keilmuan beliau? Wallahu a’lam. Intermezzo: Lalu jika ada madinah pasti ada qoryah. Sayang qoryatul ilm tidak pernah saya dengar milik siapa. Dan jika ada babul ‘ilm apakah ada nafidzatul ‘ilm (jendela pintu)? Kedengarannya belum pernah ada. Dan tidak harus ada, karena qoryah itu tidak mempunyai pengadilan secara mandiri maka belum bisa mengadili, kalau nafidzah itu bukan jalan untuk lewat tetapi untuk melihat keluar atau kedalam (ngetem), maka ilmu tidak bisa dilihat saja melainkan harus terjun dan masuk lewat pintu yang sudah tersedia.

Beliau (Sy. Ali. Red) pernah mengucapkan: “Aku ialah hamba sahaya bagi orang yang pernah mengajariku satu huruf” Ternyata, beliau yang sudah di nash oleh Rasul adalah sebagai babul ‘ilm sama sekali tidak melupakan dari siapa beliau mendapatkan ilmu, tidak cuma itu beliau rela menjadikan dirinya hamba sahaya bagi muallimnya meskipun satu huruf. Bayangkan, seorang yang teralim begitu mengapresiasi jasa guru yang telah membesarkannya, dan betapa pentingnya satu huruf bagi beliau, artinya Ia tidak meyepelekan satu hurufpun ilmu yang diperoleh. Berarti ilmu tidak diperoleh dari sombong, tapi dengan menurut pada perintah seorang guru. Bahkan dalam riwayat lain beliau ialah satu-satunya Sahabat yang mampu melakukan sholat dengan khusyu’ sampai pada tahiyat terakhir. Suatu ketika Nabi SAW mengadakan perlombaan bagi para sahabat untuk melakukan sholat dengan khusyu’ dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah. Di antara sahabat ada yang paling mendekati dalam arti mampu khusu’ hingga akhir sholat, ialah Sy. Ali KAW. Namun di tahiyat akhir beliau terbayang hadiah yang akan diterimanya. Memang khusu’ sulit, alot sekali mengarahkan hati untuk khusyu’. Terutama dalam sholat. Dengan akal sehat, kita tak bisa memperdebatkan beliau. النائم يوقظ، والغافل يذكر، ومن لم يجد فيه التذكير والتنبيه فهو ميت، انما تنفع الموعظة من أقبل عليها بقلبه، وما يتذكر إلا من ينيب. Seseorang yang tidur dapat dibangunkan, seseorang yang lalai dapat diingatkan. Siapapun yang tidak dapat diperingatkan, maka ia telah mati. Nasehat hanya bermanfaat bagi orang yang menerimanya menggunakan hati. Ketahuilah bahwa hal ini tidak dapat disadari kecuali oleh mereka yang senantiasa kembali kepada Allah. (Abdullah ibn Alawy AlHaddad R.A).

Sepenggal kisah di atas antara anak dan bapak menyisakan dua pertanyaan, yaitu bagaimana dan berapa lama belajarnya? Tentu belajar harus dengan kaifiyyah yang benar agar dapat menggapai

ilmu syari’at khususnya karena kelompok ini berbeda jauh dengan golongan ilmu yang lain. Dan dengan renggang waktu panjang dan berliku yang harus di tempuh, step by step mulai dari mensucikan hati, menghapal, menela’ah materi dari awal dan terus berkembang, sampai pada mengkaji permasalahan. Senjang awal tholabul ‘ilm adalah ketika di tanyai sebuah materi dia akan menjawab, yang kedua adalah lebih naik level yaitu menggambarkannya, yang ketiga ialah dapat menjawab serta mendatangkan dalilnya. Tidak lazim bagi seseorang untuk langsung mencapai level ke tiga, karena “ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ” (QS AlBaqarah : 189.) yang berarti tidak boleh memasuki rumah dari belakang, coba kita angkat dalil ini ke permasalahan ilmu. Setiap ilmu sendiri mempunyai bab-bab yang telah tersusun rapi dari pertama, pertengahan, lalu penghataman. Jika ada kalam khobar, maka apa itu kalam? Kalam ialah susunan kalimat yang dapat memberikan faidah diam pada si pendengar. Kalimat ialah lafadz yang mempunyai ma’na dengan atau tanpa bergantung kepada lafadz lain. Jika belajar harus seperti itu, maka jenjang tahapan yang harus dijalani tentu tidak sedikit serta membutuhkan waktu yang sangat panjang, dan memang harus seperti itu tidak ada negosiasi dalam hal ini. Dari contoh ini sudah tergambarkan tiga step yang harus di lalui tholabul ‘ilm dengan sempurna. Selain waktu juga harus mempunyai pikiran yang cerdas, dalam arti mampu menyerap materi dengan baik yang bergantung pada kemampuan tiap-tiap individu. Tapi tidak setiap individu mempunyai kemampuan yang sama, alangkah baiknya jika kita mengambil hikmah dari Muhaddits Ibn Hajr Al-Asqalany.

Ibnu Hajar Al-Asqalany suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah terus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin sabar dan tabah.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.

Ternyata, tak ada yang menyangka, perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau menjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah menjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi Ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita sekarang ini.

Bukan KECERDASAN melainkan SIKAP yang akan memberikan manfaat bagi kualitas masing-masing individu.

Hikmah: “Kisah Beliau diatas bisa menjadi motivasi bagi kita semua, bahwa sekeras apapun itu dan sesusah apapun itu jika kita betul-betul ikhlas dan tekun serta continue dalam belajar niscaya kita akan menuai kesuksesan. Jangan pernah menyerah atau putus asa, karena kegagalan itu hal yang biasa, tapi jika Anda berhasil bangkit dari kegagalan, itu baru luar biasa.           Firman Allah yang berupa: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia sendirilah yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ). Dengan ditambah cerita di atas cukuplah untuk dijadikan sarana menjaga himmah yang setiap hari tak bisa dipungkiri selalu menurun tanpa terasa karena banyak faktor, terutama kecapean dan yang lain. Usaha yang kita lalui selama ini pasti mempunyai andil untuk meningkatkan kualitas diri, patut untuk dihargai dan tentunya dapat kita pacu secara lebih, coba renungi hadits Nabi SAW berikut:  Sesungguhnya pertolongan akan datang bersama kesabaran. (HR. Ahmad). Dalam fase apapun seringkali kita menjumpai kerikil atau batu sandungan. Tanpa sabar kita hanya akan terjatuh dan sampai di situlah perjuangan. Saat kita terjatuh kita tidak mungkin menunggu dan hanya menunggu pertolongan datang, dengan kesabaran kita akan terus mengayuh langkah demi langkah hari demi hari, semakin repot karena setelah terjatuh pasti ada bekas luka parah atau tidak, dalam fase tersebut pertolongan pasti akan kita peroleh berupa obat atau lainnya, motivasi yang di dapat Ibn Hajar RA misalnya. Dan pada fase tertentu kita pasti mendapati sulitnya memahami pelajaran dan alotnya menghapal nadzom, bahkan satu nadzom saja butuh waktu lama yang tidak biasa. Bukan berarti ini sebuah kegagalan mungkin karena kelalaian dan belum mendapatkan pertolongan, tapi kalau kita stop, ini baru yang istilahnya kegagalan.

Kesimpulan: Himmah ialah cita-cita, setinggi apapun yang dapat diraih tidak akan persis seperti angan-angan. Cita-cita hanya pelecut semangat, bukan target yang harus terpenuhi karena hasil akhir tidak bergantung hanya pada amal belaka. Tidak mustahil bagi siapapun untuk menjadi yang lebih baik di esok hari, karena perubahan tetap bergantung pada diri sendiri yang mustahil hanyalah kalau mimpi terlalu indah tanpa realisasi tindakan. Cita-cita akan luntur seiring berlalunya waktu ke waktu, seyogyanya untuk di hidupkan dengan merenunginya. Yang tersimple ialah cita-cita mensukseskan hari demi hari. Sebenarnya ini bukan nasehat, melainkan bahan renungan. Renungan juga bukan apa-apa, tetapi memikirkan, mensyukuri, tanpa syukur semua akan sia-sia dan hanya angin lalu.

Kerinduan di Malam Ramadhan

Sayang, aku harap di saat ini kau terpenuhi dengan berkah untuk menjalani hari esok yang cerah. Selamat mengais waktu.. Meski kau letakkan beban rindu..

S enja tadi menjumpai dengan kelembutan
H anya waktu itu yang ingin ter ulang bersama
O mbak pantai yang bergemuruh di tengah rindu yang menghujam
F ilsafat tak akan berguna
U ntuk seorang dengan jiwanya sedang terhembus angin lembut
R aganya ingin mendekapnya walau tak mampu
O taknya hanya berputar, hawatir tentang perpisahan.


Ketenangan Malam yang Aneh

Kau akan menemukan teduhnya malam ini, andai saja kau tetap tegar bersama cacian mereka pada kebaikanmu dan pujian mereka atas keburukanmu.

Aku lebih suka bergumul dengan selimut ini jika kau memeluk lelaki esok hari. Iya, kesucian selimut tulus tanpa ada khilaf, raga dan jiwa inipun merasakannya. Mungkin lenganmu nyaman bersama lelaki lain.

Akan ku ucapkan selamat untuk malam indahmu sayang. Hanya, aku masih berdiri disini menatapmu dengan seksama.

Suatu malam, aku lihat purnama yang indah menemani. Malam berikutnya, ku nanti kehadirannya kembali, dan entah kemana perginya. Akupun mengerti, dia berselingkuh bersama malam di sana.

Purnama, kau sangat lembut saat ini. Kau tulus dengan sinarmu. Sayang, kelembutanmu bukan semata padaku, ketulusanmu terbagi, tak hanya bagiku.

Malam, kenapa kau ambil purnama itu? Aku tak punya apa2 lagi tanpa keindahannya, dan terbuang.

Sayang, jika ketulusan dan kelembutan itu hanyalah pesona tak terjaga, aku lebih suka ketusmu pertama kali perjumpaan kita.

Pesan Kalbu

Sayang, kau lembut dengan sikapmu yang kau balut dalam ungkapan manis.

Kau pernah ucapkan cara mengungkapkan perasaan. Aku termenung saat sekitarmu membunuhku. Dan ku peluk sendiri dalam pesakitanku.

Kau pernah bercerita tentang rindu. Jika kerinduan ini ibarat air maka ia akan tumpah membasahi dedaunan menjulang.

Kau ungkapan diriku penuh kekonyolan. Ku harap kau paham, itu hanya serpihan kerinduan yang terhempas tanpa ku kemas.

Biar aku ungkapkan arti kehadiranmu; Seperti lukisan pelangi yang melingkar di ujung cakrawala, selepas hujan dan sirnanya awan kelabu, berganti mentari yang tak pernah lelah memeluk dingin kesendirian dalam jiwa.

Sejarah Tahun Baru Masehi dan Keharaman Merayakannya Bagi Muslim.

tahun-baru-masehi

Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Baca selengkapnya

Perbedaan Umat Muslim dalam Tujuannya yang terakhir

Sesungguhnya orang kafir tujuan hidup mereka semata hanyalah dunia, bagi mereka akhirat bukanlah yang utama untuk di cari, bahkan mereka lupa, inkar dan lalai darinya. Kehidupan dunia adalah sebagaimana yang telah disifati oleh Al-Qur’an Al-Kariim:

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذٰلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب

Perjuangan hidup Pemuda!

Pemuda. Generasi penerus bangsa, pemegang masa depan bangsa. Apa yang kalian bisa lakukan saat muda? Semua potensi anda masih terpendam dan selayaknya untuk digali kemudian dikembangkan sehingga menjadi utuh dan membentuk seorang yang mempunyai intelegensi tinggi, integritas dalam yang akhirnya bisa di kombinasikan bersama sesama bakat yang dimiliki. Sebagai pemuda, kita punya banyak sekali waktu yang harusnya tak di buang begitu saja untuk sesuatu yang tidak memungkinkan kita berkembang. Baca selengkapnya